
Oleh : Supatmono
( disarikan dari Kompas, berita Bank Mandiri, majalah GRIYA ASRI , Ombudsman News, Republika, Media Indonesia dan beberapa sumber lain...)
Mengajak manusia kepada kepedulian terhadap lingkungan merupakan tugas yang tidak sepele. Kehidupan alam mengajarkan kepada kita bahwa kesinambungannya kadang menuntut kita campurtangan secara aktif. Kompleksitas dan kerumitan persoalan di dalamnya membutuhkan kemampuan terbaik dalam perencanaan, pengambilan keputusan, implementasi atas jaminan keberlanjutannya.
Alam memiliki kompleksitas mekanisme dekonstruksi-rekonstruksi eksistennya, pelapukan-pelapisan stratigrafinya, pembusukan-penumbuhan kembali vegetasi yang ada. Semuanya berlangsung dalam kurun waktu lama. Semua upaya teknis manusia untuk membudidayakan alam dalam memenuhi kebutuhannya harus berhadapan dengan kekuatan tersebut. Jika kita menyikapi dan menindaki dengan arif dan bijaksana, sehingga kebijakan budi daya kita menjadi selaras dengan kealamiahan tersebut, maka kita akan memperoleh hasil yang harmonis, selaras dan bersahabat dengan alam.
Ecopreneur dan Ecovalue
Konsep ecopreneur berbasis ecovalue merupakan usaha budi daya, eksplorasi alam berbasis usaha pemuliaan nilai-nilai alamiah itu sendiri, yang berujung pada maujudnya konstruksi kerja yang selaras dengan lingkungan hidup. Ecopreneur mengedepankan upaya pemanfaatan alam yang secara ekonomis akan memberi “gain” bagi pelakunya sendiri, maupun bagi lestarinya kehidupan ekologi sumber daya alam. Ecovalue merupakan pilihan tegas pelaku ecopreneur untuk senantiasa mengkonservasi kehidupan dengan mengkonservasi hidupnya lokal eksisten, memetik hikmah dari aksi kerja positifnya.
Adalah Heri Syaefudin, seorang pelaku ecopreneur sejati, berusaha mengembangkan pola dan mengimplementasikan konsep kewirausahaan tersebut di tengah arus modernitas yang kental dengan ketakterbatasan eksploitasi sumber daya alam.
Pioneer
Pria kelahiran Magelang, 41 tahun yang lalu, telah melakukan berbagai aktivitas ecopreneur. Yang pertama adalah pembangunan dan penataan kawasan Situ Pengasinan yang terletak di Sawangan, Depok. Dengan semangat dan keteguhan hatinya, Heri Syaefudin “memartirkan” dirinya untuk menjadi pejuang lingkungan bagi revitalisasi Situ Pengasinan yang nyaris hilang. Pada 2004, setelah Situ Pengasinan dikeruk, Heri membeli sempadan Situ ini seluas 2000 m2 dan hingga kini lahan seluas 6000 m2 telah Heri miliki. Ide tugas akhir semasa kuliah di APERTA Jakarta ( Akademi Pertamanan Jakarta ), ide ketika Heri masih duduk di SMP tentang rumah tahan gempa, coba Heri wujudkan dengan menciptakan rumah tinggal di tepian sempadan Situ sebagai kawasan nyaman dan asri.
Tanah yang ketika dibeli masih berupa rawa-rawa dan tempat pembuangan sampah, didesain disesuaikan dengan peraturan daerah dan kontur tanahnya. Ia habiskan uang hingga miliaran rupiah guna merubah lansekap dan citra ekologis Situ Pengasinan. Dalam totalitas kerja membangun kawasan situ, Heri mengajak Pemda Depok ikut peduli dengan penanganan lintas dinas. Ada empat dinas yang terlibat dalam penataan Situ Pengasinan yaitu Dinas Pertanian, Pekerjaan Umum, Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup.
Keutuhan konsep desain Heri menggulirkan penataan Agrowisata Situ Pengasinan secara mandiri. Masyarakat sekitar diajak dan dilibatkan dalam usaha mandiri budidaya tanaman hias. Sebuah terobosan yang sarat ecovalue bagi masyarakat.
Dengan aksi pioneer Heri, hingga saat ini Situ Pengasinan telah berkembang menjadi kawasan rekreasi, sentra penjualan tanaman hias, serta tempat pendidikan lingkungan bagi anak-anak. Selain itu, Heri juga memanfaatkan lahan di sekitar rumah sebagai laboratorium mini budidaya tanaman hias baru sebelum disebar di tengah-tengah masyarakat serta pengembangan aneka ikan konsumsi dan ikan koi dengan pola organik.
Pengelolaan Situ Pengasinan mengisyaratkan perlunya komparasi struktural logis dan berimbang yang layak dikedepankan, setelah tragedi Situ Gintung. Lebih lanjut, Heri Syaefudin berpendapat bahwa Pemerintah mesti membuat regulasi tentang ekologi yang mesti dijaga bagi kehidupan dan hak tempat tinggal yang layak berupa hunian dan daya dukung lingkungan dengan rasio kepadatan yang diperhitungkan. Sehingga kelengahan supervisi birokratis-sistemik yang berakibat fatal seperti peristiwa Situ Gintung mesti diantisipasi dengan menutup kemungkinan para pengembang untuk memanfaatkan lemahnya kajian legal-formal perijinan peruntukan lahan.
Kolaboratif
Dalam beberapa kesempatan yang lain, sosok Heri ternyata aktif juga menggalang aksi positif yang bertujuan mengembangkan jejaring di kalangan pelaku ecopreneur. Heri turut membidani Komunitas Penggemar Puring. Komunitas ini bertujuan menambah daya saing Puring untuk mengantisipasi persaingan di pasar regional. Selain itu juga memperkuat landasan kreasi generatif otentik Puring para penggemarnya, yang pada tahap selanjutnya diharap dapat memperkaya khasanah eksotis tanaman hias.
Kesadaran kepedulian pada lingkungan juga mendrong Heri untuk mengajak berbagai kalangan untuk terlibat dalam aksi penghijauan. Komunitas vespa-rider merupakan salah satu bidikan Heri untuk melebarkan aksi-visionernya. Aksi “satu vespa satu pohon” merupakan tajuk kegiatan yang hendak disasarkan bagi komunitas tersebut.
Selain itu Heri juga menyelusup dalam organisasi HIPMI. Dia meniupkan ajakan slogan “Go Green !” kepada para pengusaha muda di kawasan Jakarta dan Depok. Sebuah ajakan positif untuk bersegera mengaplikasikan konsep ecopreneur beretos ecovalue dalam setiap aktivitas usaha konstituen HIPMI.
Alam memiliki kompleksitas mekanisme dekonstruksi-rekonstruksi eksistennya, pelapukan-pelapisan stratigrafinya, pembusukan-penumbuhan kembali vegetasi yang ada. Semuanya berlangsung dalam kurun waktu lama. Semua upaya teknis manusia untuk membudidayakan alam dalam memenuhi kebutuhannya harus berhadapan dengan kekuatan tersebut. Jika kita menyikapi dan menindaki dengan arif dan bijaksana, sehingga kebijakan budi daya kita menjadi selaras dengan kealamiahan tersebut, maka kita akan memperoleh hasil yang harmonis, selaras dan bersahabat dengan alam.
Ecopreneur dan Ecovalue
Konsep ecopreneur berbasis ecovalue merupakan usaha budi daya, eksplorasi alam berbasis usaha pemuliaan nilai-nilai alamiah itu sendiri, yang berujung pada maujudnya konstruksi kerja yang selaras dengan lingkungan hidup. Ecopreneur mengedepankan upaya pemanfaatan alam yang secara ekonomis akan memberi “gain” bagi pelakunya sendiri, maupun bagi lestarinya kehidupan ekologi sumber daya alam. Ecovalue merupakan pilihan tegas pelaku ecopreneur untuk senantiasa mengkonservasi kehidupan dengan mengkonservasi hidupnya lokal eksisten, memetik hikmah dari aksi kerja positifnya.
Adalah Heri Syaefudin, seorang pelaku ecopreneur sejati, berusaha mengembangkan pola dan mengimplementasikan konsep kewirausahaan tersebut di tengah arus modernitas yang kental dengan ketakterbatasan eksploitasi sumber daya alam.
Pioneer
Pria kelahiran Magelang, 41 tahun yang lalu, telah melakukan berbagai aktivitas ecopreneur. Yang pertama adalah pembangunan dan penataan kawasan Situ Pengasinan yang terletak di Sawangan, Depok. Dengan semangat dan keteguhan hatinya, Heri Syaefudin “memartirkan” dirinya untuk menjadi pejuang lingkungan bagi revitalisasi Situ Pengasinan yang nyaris hilang. Pada 2004, setelah Situ Pengasinan dikeruk, Heri membeli sempadan Situ ini seluas 2000 m2 dan hingga kini lahan seluas 6000 m2 telah Heri miliki. Ide tugas akhir semasa kuliah di APERTA Jakarta ( Akademi Pertamanan Jakarta ), ide ketika Heri masih duduk di SMP tentang rumah tahan gempa, coba Heri wujudkan dengan menciptakan rumah tinggal di tepian sempadan Situ sebagai kawasan nyaman dan asri.
Tanah yang ketika dibeli masih berupa rawa-rawa dan tempat pembuangan sampah, didesain disesuaikan dengan peraturan daerah dan kontur tanahnya. Ia habiskan uang hingga miliaran rupiah guna merubah lansekap dan citra ekologis Situ Pengasinan. Dalam totalitas kerja membangun kawasan situ, Heri mengajak Pemda Depok ikut peduli dengan penanganan lintas dinas. Ada empat dinas yang terlibat dalam penataan Situ Pengasinan yaitu Dinas Pertanian, Pekerjaan Umum, Pariwisata dan Dinas Lingkungan Hidup.
Keutuhan konsep desain Heri menggulirkan penataan Agrowisata Situ Pengasinan secara mandiri. Masyarakat sekitar diajak dan dilibatkan dalam usaha mandiri budidaya tanaman hias. Sebuah terobosan yang sarat ecovalue bagi masyarakat.
Dengan aksi pioneer Heri, hingga saat ini Situ Pengasinan telah berkembang menjadi kawasan rekreasi, sentra penjualan tanaman hias, serta tempat pendidikan lingkungan bagi anak-anak. Selain itu, Heri juga memanfaatkan lahan di sekitar rumah sebagai laboratorium mini budidaya tanaman hias baru sebelum disebar di tengah-tengah masyarakat serta pengembangan aneka ikan konsumsi dan ikan koi dengan pola organik.
Pengelolaan Situ Pengasinan mengisyaratkan perlunya komparasi struktural logis dan berimbang yang layak dikedepankan, setelah tragedi Situ Gintung. Lebih lanjut, Heri Syaefudin berpendapat bahwa Pemerintah mesti membuat regulasi tentang ekologi yang mesti dijaga bagi kehidupan dan hak tempat tinggal yang layak berupa hunian dan daya dukung lingkungan dengan rasio kepadatan yang diperhitungkan. Sehingga kelengahan supervisi birokratis-sistemik yang berakibat fatal seperti peristiwa Situ Gintung mesti diantisipasi dengan menutup kemungkinan para pengembang untuk memanfaatkan lemahnya kajian legal-formal perijinan peruntukan lahan.
Kolaboratif
Dalam beberapa kesempatan yang lain, sosok Heri ternyata aktif juga menggalang aksi positif yang bertujuan mengembangkan jejaring di kalangan pelaku ecopreneur. Heri turut membidani Komunitas Penggemar Puring. Komunitas ini bertujuan menambah daya saing Puring untuk mengantisipasi persaingan di pasar regional. Selain itu juga memperkuat landasan kreasi generatif otentik Puring para penggemarnya, yang pada tahap selanjutnya diharap dapat memperkaya khasanah eksotis tanaman hias.
Kesadaran kepedulian pada lingkungan juga mendrong Heri untuk mengajak berbagai kalangan untuk terlibat dalam aksi penghijauan. Komunitas vespa-rider merupakan salah satu bidikan Heri untuk melebarkan aksi-visionernya. Aksi “satu vespa satu pohon” merupakan tajuk kegiatan yang hendak disasarkan bagi komunitas tersebut.
Selain itu Heri juga menyelusup dalam organisasi HIPMI. Dia meniupkan ajakan slogan “Go Green !” kepada para pengusaha muda di kawasan Jakarta dan Depok. Sebuah ajakan positif untuk bersegera mengaplikasikan konsep ecopreneur beretos ecovalue dalam setiap aktivitas usaha konstituen HIPMI.
Beberapa asosiasi dan organisasi juga Heri prakarsai, antara lain dalam Perhimpunan Florikultura Indonesia , yang untuk periode awal didirikannya menjabat sebagai Sekjen. Kemudian dalam Komunitas Puring, ia duduk sebagai Ketua. Kemudian menjadi pendiri PPTH (Persatuan Petani dan Pedagang Tanaman Hias) kota Depok. Aktif di Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) dan Paguyuban Petani Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI). Anggota tim Satlak PPKIM (Program Pendanaan Kompetensi Indeks Pembangunan Manusia) kota Depok.
Inspirator yang EmPoweredable
Berbekal kecintaan terhadap tanaman hias dan mimpi menjadikan Jabodetabek sebagai kawasan hijau, Heri Syaefuddin menggagas berdirinya sebuah Koperasi Simpan pinjam (KSP) yang berkaitan dengan tanaman hias bersama beberapa temannya. Koperasi tersebut kini beranggotakan 150 orang petani tanaman hias di wilayah kota Depok dan sekitarnya. Melalui koperasi yang dikelolanya, Heri berharap agar usaha mereka menjadi lebih maju.
Kesempatan itu datang ketika Bank Mandiri menawarkan pinjaman modal melalui Program Kemitraan kepada seluruh anggota koperasi yang dilolanya. Dengan angsuran bulanan yang dirasa tidak memberatkan Program tadi digulirkan. Heri berencana bahwa koperasi Simpan Pinjam akan mampu mengembangkan system penjualan terpadu melalui satu pintu koperasi bagi anggotanya. Dan pada akhirnya, Heri berharap kemitraan inspiratif yang terberdayakan Bank Mandiri dapat membantu meningkatkan potensi daerah Sawangan agar mampu menjadi lokasi pertanian tanaman hias yang lebih besar dan bisa menjadi lahan investasi hortikultura Depok.
lanjutkan...., semoga bisa nulari sampai tanah leluhur dan tanah kelahiran, grabag, magelang, temanggung, dan sekitarnya
BalasHapus